They Don’t Like Me, But You Like Me
" They Don’t Like Me, But You Like Me "
Waktu aku kelas 7 SMP, aku selalu dibenci teman-temanku karena aku beda dengan mereka. Mungkin aku gak sekaya mereka dan tidak se-famous mereka. Tapi aku hanya terima apa adanya. Ya namanya anak zaman sekarang, suka milih-milih teman. Tanggal 3 maret yang lalu, aku berangkat sekolah ya seperti biasa aku datang pagi. Aku ke kelas dan sms-an sama adikku, Mili memakai hp yang jadul. Tiba-tiba temanku Lila dateng.
“Wah hp-nya keren amet tuh, iphone 6 tuh…” kata temannya satu lagi, Karen.
“Miskin amet lo sampe-sampe hp aja gak bisa beli, gue dong hp samsung terbaru,” kataku.
“Jangan lihat dari hpnya dong. Lihat dari hatinya. Percuma aja kayak tapi hatinya jelek.”
Lila langsung mengambil hp-ku lalu berkata, “Eh… Di mana-mana kalau orang kaya ya hatinya juga kaya, kalau miskin berarti hatinya miskin, ngerti gak lo sekarang?” Lalu ia membanting hp-ku lalu pergi. Aku memungutnya tiba-tiba seseorang berdiri di belakangku.
“Miskin amet lo sampe-sampe hp aja gak bisa beli, gue dong hp samsung terbaru,” kataku.
“Jangan lihat dari hpnya dong. Lihat dari hatinya. Percuma aja kayak tapi hatinya jelek.”
Lila langsung mengambil hp-ku lalu berkata, “Eh… Di mana-mana kalau orang kaya ya hatinya juga kaya, kalau miskin berarti hatinya miskin, ngerti gak lo sekarang?” Lalu ia membanting hp-ku lalu pergi. Aku memungutnya tiba-tiba seseorang berdiri di belakangku.
“Ada yang aku bisa bantu?” lalu aku menoleh ke belakang lalu menatap wajahnya, ternyata ia kakak kelasku, kelas 9, Victory. “Tidak usah Kak, aku bisa kok,” jawabku.
Dia berkata, “Oh ya sudah. Kamu gak kenapa-kenapa kan?” pas aku mendengar kata itu, rasanya aku seperti mempunyai teman yang peduli terhadapku. Lalu aku berdiri dan berkata, “Tidak Kak, tidak kenapa-kenapa.”
Dia berkata, “Oh ya sudah. Kamu gak kenapa-kenapa kan?” pas aku mendengar kata itu, rasanya aku seperti mempunyai teman yang peduli terhadapku. Lalu aku berdiri dan berkata, “Tidak Kak, tidak kenapa-kenapa.”
Lalu aku bergegas lari ke arah kantin. Di sana aku melihat segerombolan geng yang sedang menggosip tentang diriku. Tetapi aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan. Aku hanya berjalan santai untuk membeli roti. Waktu aku sedang membeli roti, aku mendengar seseorang memanggilku. “Sarah. Ke mari.” lalu aku mencari asal suara itu. Ternyata yang panggil aku adalah kak Victory, dan aku menghampirinya.
“Ada apa Kak manggil aku?”
“Kamu di kantin jajan apa?”
“Roti Kak,” jawabku.
Lalu ia memberikan sebuah bungkusan, “Ini, mana tahu kamu lapar makan aja ini.”
“Ini apaan Kak?” tanyaku.
“Ini nasi goreng buatan Ibuku. Enak deh! Pasti nanti kamu ketagihan.”
“Kak, terima kasih ya. Lain kali Kakak gak usah repot-repot ngasih nasi gorengnya.” kataku.
“Iya. Kan sekali-sekali. Ya udah, Kakak masuk kelas dulu ya. Bye, bye,”
“Bye Kak.” dengan rasa bahagia dan bersyukur aku bawa bekal itu ke kelas.
“Kamu di kantin jajan apa?”
“Roti Kak,” jawabku.
Lalu ia memberikan sebuah bungkusan, “Ini, mana tahu kamu lapar makan aja ini.”
“Ini apaan Kak?” tanyaku.
“Ini nasi goreng buatan Ibuku. Enak deh! Pasti nanti kamu ketagihan.”
“Kak, terima kasih ya. Lain kali Kakak gak usah repot-repot ngasih nasi gorengnya.” kataku.
“Iya. Kan sekali-sekali. Ya udah, Kakak masuk kelas dulu ya. Bye, bye,”
“Bye Kak.” dengan rasa bahagia dan bersyukur aku bawa bekal itu ke kelas.
Sesampainya aku di kelas, aku dilabrak (dimarahin rame-rame) satu kelas. Kata Lila.
“Sarah. Itu makanan apaan?”
Aku jawab, “Itu nasi goreng dari Kak Victory…”
“Sini makananya! Lo gak pantes makan kayak beginian, lo pantesnya makan sampah!” kata Lila.
“Sarah. Itu makanan apaan?”
Aku jawab, “Itu nasi goreng dari Kak Victory…”
“Sini makananya! Lo gak pantes makan kayak beginian, lo pantesnya makan sampah!” kata Lila.
Kemudian ia merampas makanan itu dan menyimpan di dalam tasnya. Aku ditertawai satu kelas dan aku menangis lalu berlari menuju kamar mandi. Aku menangis dan menangis hingga saatnya bel masuk berbunyi. Aku masuk kelas dengan rasa sakit hati dan sedih aku duduk di bangkuku lalu sambil menghapus air mataku. Di dalam kelas aku selalu digosipin dari ujung ketemu ujung kelas selalu ada kata-kataan yang menyakitiku. Bel pun berbunyi aku pun berdiam diri di kelas. Lalu kak Victory datang menghampiriku.
“Sarah, mengapa kau sendiri?”
Lalu aku menjawab, “Gak apa-apa Kak! Aku cuma mau sendiri aja. Kakak gak jajan?”
“Udah tadi. Eh kamu makanlah nasi goreng yang Kakak kasih tadi,”
Aku menjawab dengan rasa malu dan gak enak sama kak Victory. “Udah Kak, udah dimakan tadi sebelum masuk,”
“Oh. Ya udah. Kakak masuk kelas dulu ya,”
“Ya Kak..” serasanya baru kali ini aku punya teman yang baik selalu perhatian. Lalu waktu pulang sekolah ia mengantarku sampai depan rumahku. Rasanya indah sekali. Akhirnya aku punya teman, walaupun cuman satu.
Lalu aku menjawab, “Gak apa-apa Kak! Aku cuma mau sendiri aja. Kakak gak jajan?”
“Udah tadi. Eh kamu makanlah nasi goreng yang Kakak kasih tadi,”
Aku menjawab dengan rasa malu dan gak enak sama kak Victory. “Udah Kak, udah dimakan tadi sebelum masuk,”
“Oh. Ya udah. Kakak masuk kelas dulu ya,”
“Ya Kak..” serasanya baru kali ini aku punya teman yang baik selalu perhatian. Lalu waktu pulang sekolah ia mengantarku sampai depan rumahku. Rasanya indah sekali. Akhirnya aku punya teman, walaupun cuman satu.

0 Response to "They Don’t Like Me, But You Like Me"
Post a Comment