Kepada Gadis Yang Aku Kagumi

https://cerpenja.blogspot.co.id/

Bukan sesuatu yang mengejutkan jika aku, Narendra Wijaya menjadi laki-laki idaman para gadis-gadis di sekolahku. Menjadi kapten basket, ketua organisasi siswa, menjadi murid kelas unggulan, dan pasti cokelat atau apa pun tidak pernah absen kosong dari lokerku. Menurutku itu hanya kebetulan saja yang datang menghampiriku. Dari semua itu, aku tidak merasa bangga atau bagaimana. Hanya mengambil keuntungan seperti makanan yang berlimpah untuk aku bawa pulang dan aku bagi-bagikan kepada pekerja yang bekerja untuk ayahku dan ibuku. Cukup melihat pekerja-pekerjaku senang, sunggguh.. Sudah lebih dari cukup.
Valentine adalah hari yang paling aku tunggu-tunggu. Lokerku pasti akan penuh total. Bisa saja satu gadis itu memberikan hingga 5 cokelat hanya untukku. Jadi coba dihitung kalau satu orang gadis memberikanku 5 cokelat, dan gadis yang memberiku cokelat itu dari kelas 10 yang satu angkatannya ada 200 orang, dan sekitar 65% siswi yang memberiku cokelat, kelas 11 yang satu angkatannya ada sekitar 350 orang dan sekitar 75% siswi yang memberiku cokelat, dan angkatanku sendiri, kelas 12 ada sekitar 250 siswa dan nyaris 90% mereka memberiku cokelat. Valentine setiap tahunnya selalu membuat orang rumahku terkekeh karena aku harus membawa dua kantong plastik besar-besar bukan hanya dari siswi-siswi sekolahku, tapi sekolah lain, kakak-kakak kelasku yang sudah lulus, dan lain sebagainya pasti akan mendarat di lokerku atau di mejaku.
Dan dari sekian cokelat yang sudah diberikan oleh para gadis-gadis yang malah aku tidak kenal sama sekali, entah kenapa hatiku jatuh kepada seorang gadis yang tak sengaja ku tabrak. Bukan anggota cheerleader, atau tim basket, atau apalah. Ia hanya dari tim kesehatan yang biasanya adalah mereka-mereka yang kutubuku yang akan bekerja di lapangan. Sarah namanya. Waktu itu tak sengaja tim dari sekolah lain menonjokku ketika aku berhasil menonjok wajahku. Dengan cepat dan tanggap Sarah menarik lenganku dan mengeluarkanku dari lapangan sebelum aku jatuh pingsan karena dehidrasi dan darah yang mengucur dari hidung serta ujung bibirku.
“Kamu jangan pingsan dulu. Astaga. Aku mohon jangan pingsan dulu!” ujar Sarah panik dan menggerakkan tangannya berkali-kali menyuruh adik kelas kami yang satu tim dengannya agar berjalan lebih cepat lagi. “Kalian kenapa lama banget sih jalannya? Kalian niat bantu orang gak sih? Aku tahu kalian suka sama manusia ini! Tapi mau gimana juga kalian grogi, kalian tetap harus membantu orang yang kalian suka atau kagumi atau apalah terserah!” ujar Sarah membentak adik-adik kelas kami hingga membuat mereka terdiam.
“Ren. Lonya juga jadi manusia jangan kegantengan. Biasa aja kenapa sih?” ujarnya masih membiarkan kepalaku di atas pahanya.
“Eh ambilin minum dong. Haus nih,” ujarku waktu itu karena aku tidak tahu siapa namanya.
“Minta tolong dulu. Baru diambilin sama mereka,” sahut Sarah sebelum sang adik kelas polos itu menyambar air mineral tidak jauh dari mereka.
“Sarah, aku minta minum. Aku haus akut. Boleh tidak?” ujarku yang waktu itu masih kelas 11 dan kakak-kakak kelas serta teman satu angkatan ditambah kelas 10 sudah histeris melihat aku dan Sarah.
“Ambilkan manusia ini air putih. Kasihan nanti dehidrasi. Buruan,” ujar Sarah kemudian. Tanpa menunggu lagi, salah satu adik kelas itu langsung berdiri dan menyambar air mineral dan memberikannya bukan padaku tapi pada Sarah.
“Kamu, diem dulu. Gak mungkin kamu itu harus minum sambil tiduran begini kan?”
“Oh ya. Benar. Oke aku duduk dulu,” ujarku yang langsung dibantu Sarah untuk duduk dan mengangkat kepalaku dari pahanya.
“Minumnya pelan-pelan soalnya–”
Sebelum Sarah sempat menyelesaikan ucapannya, aku sudah keburu minum dan perih di dalam rongga mulutku terasa begitu pedih hingga aku mengerang kesakitan. “Haus sih haus Ren. Tapi dengarkan dulu kalau ada orang yang mau bicara sama kamu,” ujar Sarah kemudian mengobati mulutku yang akhirnya menyerah dan akhirnya berdarah darah.
“Maaf. Terima kasih ya sudah mengobatiku. Sangat membantu,” ujarku menepuk bahu Sarah kemudian mengangkat tanganku dan kembali ke dalam lapangan basket.
Semenjak itulah entah bagaimana aku menaruh hatiku pada gadis kurus tinggi putih berkacamata kotak berambut sebahu itu. Ketika bertemu di kantin, entah kenapa tiba-tiba aku merasa malu. Ketika ia menantang mataku, mataku merasa malu dan aku ingin sekali buru-buru kembali ke kelas dan memendam wajahku sedalam-dalamnya. Suatu hari aku benar-benar dikagetkan oleh gadis rambut sebahu itu. Bukan hanya menantang bertatap mata denganku, ia pun menantang untuk mendekatiku ketika semua siswi segan mendekatiku. Hal yang pertama ku pikirkan adalah bagaimana bisa gadis seperti dia yang menurutku masuk ke dalam daftar gadis yang memujaku itu berani-beraninya menantang untuk bertemu langsung denganku. Cukup Elisa saja, jangan kamu juga berani mendekatiku begitu saja. Karena aku ingin sekali mengejarmu. Pikirku waktu itu ketika tiba-tiba ia datang tepat di depan tubuhku yang jangkung.
“Ren. Waktu itu kamu kelupaan handuk kecil ini. Ini punya kamu kan? Gak tahu bagaimana bisa di aku. Intinya waktu kamu ketonjok itu, handuk ini sudah sama kamu. Ngomong-ngomong handuknya sudah ku cuci jadi tenang saja,” ujarnya seraya mengembalikkan handuk kecil berwarna hijau pastel itu padaku.
“Oh ya? Pantas saja aku cari-cari handuk ini ke mana-mana gak ada. Ternyata kamu ambil,” ujarku dengan nada dingin dan angkuh. Sungguh ini bukan karena aku ingin bersikap sombong, tapi 100% aku ini grogi.
“Sudah baik saya cucikan dan saya kembalikan. Belum tentu gadis gadis lain akan mengembalikan handukmu yang murahan itu,” ujarnya kemudian langsung melesat pergi meninggalkan kantin tanpa menunggu satu dua detik lagi.
“Dasar kurang pengalaman. Dasar bodoh lo Nar,” ujar Dino yang langsung menghantam belakang kepalaku kuat-kuat hingga aku harus mengaduh kesakitan.
“Memangnya lo sama Senja gimana? Gak ada bedanya!” ujarku sambil mengelus-elus belakang kepalaku yang sekarang terasa nyut-nyut-an.
“Memang lo itu harus gue les-in buat ngobrol sama cewek gebetan lo. Kapan mau dimulai les privat sama Dino?” ujarnya sambil terkekeh melihatku masih mengelus-elus belakang kepalaku.
“Gak usah sombong. Lihat aja nanti Senja bakal jadian sama si Reno,” ujarku yang disusul umpatan-umpatan dari mulut Dino seraya aku meninggalkan Dino yang masih terperangkap di pintu kantin.
“Selamat datang di klub kesehatan, Kak Narendra. Ada yang bisa aku bantu?” tanya gadis yang kelihatannya adalah adik kelasku. Bagaimana ia bisa tahu namaku ini Narendra ya? Tanda pengenal di seragamku mungkin?
“Sarah ada?” tanyaku padanya.
“Oh, tadi Kak Sarah izin ke luar sebentar. Katanya ke toilet sebentar,” jawabnya dengan sopan sambil terus tersenyum tanpa henti-henti. Aku mengangguk kemudian memberikan senyum padanya hingga membuat pipinya yang putih itu menyemburat merah.
“Ada apa cari saya?” suara yang sudah 3 minggu aku rindukan. Sarah Kusuma. Setelah 3 minggu lamanya liburan kenaikan kelas, aku sudah merindukan matanya dan wajahnya hingga rasanya ingin pingsan saja.
“Oh, hai Sarah. Apa kabar?”
“Ada apa anggota klub basket mendatangi klub kesehatan? Ada yang bermasalah dengan teman Anda?” tanyanya dengan nada meninggi dan sama sekali tidak menatap mataku.
“Memangnya harus ada yang bermasalah dulu baru anggota klub basket boleh mendatangi klub kesehatan?”
“Hanya anggota klub bakset yang merasa tidak memiliki teman saja yang sudi untuk mendekati klub lain. Contohnya klub kesehatan ini,”
“Kenapa sih kok kamu bicara seperti itu? Kenapa kamu malah memojokkan anggota klub basket?”
“Anda lihat saja sendiri sekarang. Tenda klub basket adalah tenda terbesar kedua setelah klub futsal,”
Aku langsung mengikuti kata-katanya dengan menengok langsung tenda klub basket yang berdampingan dengan klub futsal, kemudian membandingkan dengan tenda-tenda klub lain. Dan ya, jawabannya memang benar. Tapi ngomong-ngomong kenapa Sarah jadi berubah begini? Ada apa?
“Sekarang sudah jelas kan kenapa saya bertanya pada Anda. Ada pertanyaan lain yang harus saya jawab? Kalau tidak ada silahkan Anda menyingkir dari sini karena banyak murid-murid baru ingin mendengarkan penjelasan dari klub yang saya ketuai,”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku,”
“Pertanyaan yang mana yang harus saya jawab lagi? Bukannya semua pertanyaan anda sudah saya jawab sejelas-jelasnya ya? Kalau anda hanya ingin berbicara pada saya, nanti saja. Ada waktunya. Sekarang saya harus melayani pertanyaan yang lebih penting daripada Anda,” tanyanya semakin dingin dan semakin membuatku pusing.
“Saya juga ada kepentingan di sini. Dan saya lebih penting daripada mereka mereka ini,”
“Oh ya? Apa pentingnya anggota klub basket ada di klub kesehatan kalau bukan membuat klub ini berantakan dan gaduh?”
“Kenapa kamu seperti ini Sar? Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba bersikap dingin seperti ini?”
Ia memejamkan matanya dan mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan teratur seperti menahan sesuatu yang tidak aku ketahui. “Karena saya pernah menaruh perasaan saya pada Anda. Setelah kejadian di kantin yang Anda bersikap seperti tidak berterima kasih pada saya, akhirnya saya mundur dan mencoba melupakan perasaan saya sendiri. Saya tidak ingin memiliki pasangan yang sikapnya angkuh. Apalagi kepada seorang gadis,” Jawabannya berhasil membuatku menganga dan membuat suasana di sekitar kami berubah seketika. Semua orang di anggota klub kesehatan ini menjatuhkan pandangan mereka ke arah kami.
“Sudah jelas jawaban saya? Jadi tunggu apa lagi? Silahkan pergi dari sini sekarang juga,”
“Saya juga menaruh hati padamu, Sar. Tapi saya tidak mencoba untuk mundur. Justru hari ini saya ingin mengatakan sebenarnya, sebelum saya menyesal nanti. Tapi ternyata justru kamu yang mengatakannya lebih dulu,”
“Mari saya pikirkan lagi untuk memberikan jawaban atas pernyataan Anda barusan. Semoga saja Anda berhasil,” ujarnya yang membuatku tersenyum dan selalu menunggu jawabannya.
Jadi di akhir cerita, kepada gadis yang aku kagumi, Sarah Kusuma. Semoga kamu cepat pulang dari Belanda karena aku sudah merindukanmu. Salam dari pasanganmu, Narendra Wijaya.
Cerpen Karangan: Anindhita Almadevy

0 Response to "Kepada Gadis Yang Aku Kagumi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel