Pre Mathematic National Examination

https://cerpenja.blogspot.co.id/

Esok hari ketiga UN SMA, tepatnya UN Matematika. Aku mencoba belajar dengan mengerjakan latihan-latihan soal yang ada di buku latihan UN matematika. Soal demi soal terus ku lewati, waktu demi waktu terus ku habisi, namun semua yang telah ku lakukan tidak membuatku puas, karena tidak satu pun soal yang aku kerjakan. Beranjak dari soal no. 7, pikiranku serasa dibawa ke pulau kapuk, ngantuk! Jarum jam pun menunjukkan angka 3 dengan jarum yang lebih pendek menunjuk ke angka 7. Aku pun mencobanya lagi, lagi, dan lagi. Namun apa yang ku peroleh? Tidak lain hanyalah sebuah kekesalan kepada masa lalu yang tiada henti karena aku tidak suka matematika sejak kelas 1. Mungkin apa yang Adolf Hitler katakan tentang matematika berlaku juga padaku.
“Bisa saja aku mengerjakan seluruh soal yang ada di ujian matematika ini, namun aku sisakan sedikit agar kalian juga bisa ikut mengerjakannya.”
Dengan mata kosong aku menatap beberapa soal yang ada pada buku latihan yang diberikan secara sia-sia oleh ibu guruku yang pada waktu dulu biasa dipanggil sayang oleh mantan pacarnya yang kini menjadi suaminya yang ternyata numpang di rumah eyangnya yang berada di samping rumahku. Biasanya, waktu mengerjakan soal matematika, tiap kali aku tidak menemukan jawaban yang benar, aku berganti ke soal selanjutnya. Baik itu soal tentang aljabar, logaritma, turunan, pangkat, jabatan yang kesemuanya hanyalah titipan dari Tuhan semata maupun soal tentang trigonometri, kulkaskus eh kalkulus, matriks, evolution, dan sebagainya. Sumpek! Itulah yang ku rasakan saat mengetahui bahwa soal yang telah ku kerjakan dengan cara yang panjang lebar tidak ada pada pilihan jawaban. Nah, di saat-saat yang tidak mengenakkan seperti itu, biasanya secara otomatis pikiranku terbang ke sana ke sini memikirkan hal yang tidak penting.
Bisa saja aku memikirkan keadaan politik negeri ini, memikirkan kenaikan harga cabai, memikirkan kenaikan harga BBM -padahal aku gak bisa naik motor, memikirkan kenaikan rok mini cewek, apa saja. Yang paling bikin gak enak yakni memikirkan Dewi, cewek yang aku suka sejak kelas 2. Dewi, ya Dewi. Namanya juga Dewi, ya emang kayak Dewi. Cantik, pinter, religius, lembut, itulah yang membuat banyak cowok pada waktu itu naksir sama dia. Walaupun dia kayak gitu, tapi satu hal yang membuatku benar-benar suka dengannya, Pendiam. Ya, dia membuatku teringat dengan karakter-karakter cewek yang ada di anime-anime dan drama-drama Jepang bergenre romance. Aku mengenalnya sejak awal kelas 2 dan seketika menyukainya. Dan karena aku menyukainya itulah aku -pada waktu itu- berpikiran macam-macam tentangnya.
“Dia cantik banget ya, manis lagi. Dia tuh orang mana sih? Dia tuh nyata gak sih? Dia tuh cuman Dewi apa Dewi beneran sih?” Sampai yang paling ngawur… “Dia tuh cewek gak sih?! Dia tuh orang beneran apa makhluk halus sih?!!”
Walaupun sekelas, tapi aku tidak pernah bisa mendekatinya. Alasan paling utama ialah aku yang terlalu malu untuk mendekatinya, jadi aku hanya menganggapnya sebagai ‘Teman Asal Kenal’ seperti anak-anak lain. Itu cuman alasan yang utama loh, belum alasan yang nomor kesekian. Di antaranya, dia disukai oleh beberapa cowok lain, dia sering pergi jajan bareng teman-teman ceweknya, dia suka dengan kakak kelas, dan terakhir-yang masih ku ingat-dia sering ‘dicomblangin’ dengan sahabatku sejak SD. Akhirnya aku menahan perasaan itu untuk tahun pertama aku menyukainya. Di kelas 3, tahun kedua aku menyukainya, aku kebetulan menemukan artikel yang ia share di FB. Ya mungkin namanya juga terlanjur cinta kali ya, aku mengomentari artikel yang ia share itu, dan akhirnya aku mulai menjalani kehidupan sebagai sesosok makhluk astral misterius bernama Stalker.
“Wah, keren!” saat ia mengshare sebuah artikel yang tidak ku pahami.
“Oh, jadi gitu. Gimana ya kira-kira kelanjutannya?” saat ia mengshare screen shot sebuah adegan drama Korea yang sebenarnya bertentangan denganku yang merupakan pecinta anime dan drama Jepang.
Dan yang paling membuatku panas dingin ialah ketika aku mengirimkan lirik lagu ‘Payphone’ beserta terjemahannya ke wall FB Dewi. Aku tidak menyangka bahwa ia benar-benar menyukai -gak cuman sekedar like- sesuatu yang kebetulan ku suka lalu ku kirim ke wall FB-nya sambil berharap ia akan menyadari perasaanku kepadanya. Sepulang sekolah, ketika menuju halte itulah ia benar-benar mengomentari sesuatu yang ku kirim ke wall FB-nya, “Aku juga suka Maroon 5 loh, aku juga suka Payphone. Yang One More Night jangan lupa kirimin juga ya,”
Friend zone, friend zone, friend zone. Entah apa saja yang ada di pikiranku saat itu. Entah mengapa aku bahagia mendengarnya walau ia mungkin hanya menganggapku sebagai ‘Hanya Teman’ saja. Entah mengapa aku benci mendengarnya walau ia juga menyukai sesuatu yang juga ku suka. Entah mengapa aku menulis tentang Dewi walau aku sebenarnya ingin menulis tentang persiapan ujian matematikaku. Dan entah mengapa mataku terasa sangat berat sehingga aku ingin mengerjakan soal-soal latihan ini dan menyelesaikan tulisan ini secara ‘Inception’. Apa yang akan terjadi esok, terjadilah. Apa yang tidak akan terjadi esok, ya jangan terjadi. Ku serahkan semua soal UN Matematika esok pada teman-temanku esok.
Cerpen Karangan: Dira Indarwan

0 Response to "Pre Mathematic National Examination"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel