First Time

https://cerpenja.blogspot.co.id/

"First Time"
‘Hari ini kita ketemu ya.’
Gubrak!! Hatiku tersentak kaget melihat isi sms darinya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya dia mengajakku untuk bertemu. Tapi tetap saja, aku selalu kaget. Walaupun sudah tiga bulan lebih kita berteman lewat sms, sampai saat ini aku belum memberanikan diri untuk bertatap muka dengan cowok ini. Ku ingat pertama kali sms-nya datang ke layar HP-ku. Tidak ada yang spesial di sana, hanya tertulis ‘hai’. Aku pun juga tidak mempedulikannya. Aku bahkan langsung menghapus sms-nya. Aku pikir itu pasti kerjaan cowok iseng saja.
Tapi untuk kedua kalinya dia mengirim sms padaku, aku agak tertarik. Isi sms-nya lebih panjang sedikit. ‘Boleh kenalan gak?’ Aku sempat berperang batin saat itu, apakah membalasnya atau tidak. Setelah agak lama berpikir, akhirnya aku membalasnya juga. Dalam hatiku aku berharap dia seorang cowok. Aku ingin merasakan kehidupan remaja pada umumnya. Bisa berteman dengan lawan jenis sesuka hati mereka.
Selama ini aku terlalu menutup diri pada cowok. Aku tidak tahu mengapa. Barangkali aku terlalu minder dengan keadaan diriku yang bisa dibilang pas-pasan. Aku tidak terlalu cantik. Apa yang bisa ku andalkan dari diriku untuk bisa mendapatkan cowok? Akhirnya aku mulai mengetik sms untuk membalasnya. ‘Emt, siapa di sana?’ Setelah meng-klik send untuk mengirim sms, aku berencana untuk menyimpan nomor itu. Aku menyimpannya dengan nama Mr. X. Tak lama kemudian orang itu membalas sms-ku. Dari isi sms-nya akhirnya ku ketahui bahwa namanya Rizal. Harapanku ternyata terjadi, pengirim sms itu seorang cowok. Aku senang sekali, akhirnya aku punya teman cowok smsan untuk yang pertama kalinya. Dimulai dari sinilah pertemananku dengan Rizal. Mataku sedikit terbuka untuk kehidupan remaja.
Aku mulai mencecap kehidupan remaja yang sebenarnya. Walaupun begitu, aku masih takut kalau-kalau Rizal mengajakku untuk bertemu. Aku takut setelah Rizal melihat orang yang ia ajak smsan selama ini tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Aku takut dia kecewa lalu meninggalkanku dan tak mau lagi menjadi temanku. Dan sekarang ketakutanku menjadi kenyataan. Lagi-lagi Rizal mengajakku untuk bertemu. Kira-kira ini sudah yang keempat kalinya dia berkata ingin bertemu denganku. Aku tak tahu bagaimana lagi beralasan padanya. Sepertinya aku sudah kehabisan akal untuk menolak ajakannya.
Tiba-tiba HP-ku berdering. Aku sangat terkejut. Ku lihat di layar hp-ku tertuliskan Mr. X. What? Rizal meneleponku. Bagaimana ini? Aku sangat bimbang. Haruskah aku mengangkat teleponnya? Ataukah aku merejectnya? Saking lamanya ku biarkan hp-ku berdering tiba-tiba nadanya berhenti. Aku mulai tenang dia sudah tidak meneleponku lagi. Aku bisa bernapas lega. Tapi tak lama kemudian hp-ku berdering lagi. Yang tertulis di layar masih nama yang sama, Mr. X. Apa yang harus ku lakukan? Akhirnya ku beranikan diri mengangkat teleponnya. Aku menarik napas panjang-panjang untuk menenangkan diriku. Lalu ku tuntun mulutku mengeluarkan kata halo.
“Halo, Lea. Kok baru diangkat, sih, ke mana aja? Sms-ku juga belum dibales,” sahut Rizal dari seberang sana.
“Emt, maaf aku lagi ada kerjaan. Jadi aku belum sempat baca sms-mu,” jawabku berbohong. Padahal kan aku sudah membaca sms-nya. “Emangnya ada apa, Zal?” lanjutku.
“Besok kan hari Minggu, main ke taman yuk. Sekalian juga aku pengen ketemu kamu, Lea.”
Aku sudah mengira dia akan mengatakan itu. Apa yang harus ku katakan?
“Plis Lea, kali ini kamu jangan nolak. Aku kan pengen lihat temen baikku ini. Aku pasti nggak akan kecewa kok, aku bisa terima kamu apa adanya.” Rizal memaksa.
Aku cukup tenang dan senang dengan perkataannya. Tapi apa aku bisa mempercayainya? Tuhan, tolong aku.
“Lea, lagian kenapa sih kamu harus minder? Nggak ada manusia yang sempurna, kalaupun kamu punya kekurangan pasti ada kelebihan di samping itu.”
Benar apa yang dia bilang, kenapa aku harus minder? kalau aku minder, berarti aku tidak mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan padaku. Ya sudahlah, hadapi tantangan ini. Hadapi Rizal, kalaupun dia kecewa berarti dia mendustai perkataannya sendiri. Belum tentu Rizal sama seperti yang ada dalam bayanganku. Siapa tahu bayangan kita sama-sama melenceng. Lagi pula sampai kapan aku harus menutup diri dengan cowok? Akhirnya ku mantapkan keputusanku untuk mengiyakan ajakannya. “Baiklah.” Ku dengar Rizal tersenyum. Pikiranku melayang, seolah aku tak percaya apa yang baru saja terjadi. Aku sepakat bertemu Rizal besok. Aku akan bertemu cowok yang selama ini ku kenal dari tulisan-tulisannya di sms. Yang selama ini aku belum tahu seperti apa wajahnya.
Malamnya aku sibuk mempersiapkan diri untuk pertemuan besok. Aku memilah-milah baju mana yang akan ku pakai. Ya ampun, kenapa aku jadi ribet gini ya? Apakah seperti ini yang remaja lain lakukan? Apakah aku benar-benar menjadi remaja yang sesungguhnya? Hari Minggu tiba. Aku tidak bisa melewati setiap detik dengan perasaan tenang. Aku akan bertemu dengan seorang cowok yang belum pernah ku kenal sebelumnya untuk pertama kali dalam hidupku. Sebelum menghidupkan starter motorku, aku memantapkan hatiku untuk yang terakhir kalinya. Baiklah, aku tidak boleh mundur. Hadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Jangan jadi penakut. Akhirnya aku tiba di tempat yang telah kita sepakati. Aku belum melihat sesosok laki-laki di sana.
Apakah Rizal belum datang? Hatiku gundah menunggu kehadiran seorang laki-laki yang akan menyapaku. Sudah sepuluh menit aku menunggu, kenapa tidak ada cowok yang menghampiriku? Apa yang terjadi? Apakah Rizal sudah melihatku lalu dia kecewa dan pergi? Pikiranku menjadi kacau. Aku jadi berpikir yang bukan-bukan. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah. Siapa tau aku akan menemukan sesosok laki-laki yang sedang mengamatiku. Tapi tidak. Tidak ada tanda-tanda cowok asing yang memperhatikanku.
Namun selang beberapa detik kemudian sebuah motor berhenti. Pengendaranya seorang cowok yang kira-kira nggak jauh beda umurnya denganku. Tempat ia berhenti hanya sekitar dua meter di depanku. Apakah mungkin itu dia? Dengan hati-hati aku memperhatikan cowok itu. Ia mulai melepas sarung tangannya. Kemudian ia membuka helmnya. Tapi aku belum bisa menangkap wajah cowok itu, karena dia mengenakan masker wajah. Ku lihat dia mengarahkan matanya padaku. Aku jadi kikuk dan langsung berpaling ke lain arah. Setelah aku yakin dia tidak melihatku lagi, aku kembalikan perhatianku padanya. Sungguh menegangkan, ia berjalan ke arah depan. Aku khawatir apakah dia hendak menghampiriku. Lagi-lagi ia membalas tatapanku. Aku benar-benar gugup, jantungku berdegup kencang.
Tiba-tiba hp-ku bergetar dan membuyarkan tatapanku pada cowok itu. Buru-buru aku mengangkat telepon itu tanpa melihat nama yang terpampang di layar, “Halo.”
“Lea, kamu udah nyampe taman?” tanya seorang cowok yang suaranya tidak asing di telingaku.
“Rizal?” tanyaku lirih.
“Lea, ini aku, Rizal.” Mendengar itu aku jadi lemas. Cowok misterius yang berjalan ke arahku tadi baru saja menyerongkankan arah jalannya. Itu artinya dia memang orang asing yang tidak ada kaitannya denganku. Badanku terduduk lemah di bangku taman kembali setelah berdiri dengan penuh ketegangan.
“Kamu di mana?” kataku pelan.
“Maaf ya, ban motorku bocor. Aku harus ke bengkel dulu. Aku bener-bener nggak nyangka bakal kayak gini jadinya. Kalau kamu kelamaan nunggu, kamu pulang aja. Kita ketemu lain kali lagi. Aku bener-bener minta maaf ya.”
Aku tidak tahu apa maksudnya ini. Setelah sekian lama dia memintaku untuk bertemu dan aku menolak, sekarang giliran aku mengabulkan permintaannya kenapa jadi dia yang membatalkan. Tuhan, apakah ini artinya Kau tidak merestuiku bertemu dengannya? Apa pun itu aku percaya pada-Mu, Kau lebih tahu yang terbaik untukku. Aku tersenyum tipis lalu menarik napas panjang-panjang. Ada ketenangan menyusup di hatiku. Ya, tenang, karena aku tidak jadi bertemu dengannya. Aku terselamatkan dari ketakutanku tentangnya. Tapi dari lubuk hatiku yang paling kecil aku merasakan sepercik kekecewaan. Tentu saja, aku tidak jadi mengenal Rizal secara langsung. Seandainya aku bertemu Rizal tadi, aku akan tahu dia yang sebenarnya. Apakah dia benar-benar tulus ingin berteman denganku. Ataukah dia akan kecewa lalu pergi. Tapi ternyata Tuhan belum mengizinkanku untuk bertemu dengannya sekarang. Ya sudahlah. Aku ikuti saja skenario Tuhan untukku. Sekarang aku bisa bernapas lega. Aku pun pulang dengan senang.

0 Response to "First Time"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel