Cinta Tak Berbalas

http://cerpenja.blogspot.co.id/

Pagi yang cerah. Matahari pun mulai menampakkan wajahnya, memberikan senyuman seolah telah siaga untuk menyinari dunia ini. Begitu pun denganku, ku kibaskan selimutku dan segera ku rapikan kamar kostku yang berantakan karena ulah teman-temanku semalam. Kami tinggal dalam satu rumah kost yang membedakan hanya sekat-sekat kamarnya saja.
“Hoaam pagi sekali kamu bangun?” ujar Angel temanku yang baru bangun dan melihatku telah selesai mandi.
“Pagi katamu? Helo? Ini udah jam 7.00 bentar lagi kita upacara, ini kan hari senin,”
“Ah masa? Tapi jam ku masih jam 6.30 tuh,” saat ku lihat jam dindingnya dan benar saja baru jam 6.30! Ups ternyata jam itu tidak bergerak sama sekali (habis baterai) aku terkekeh melihatnya.
“Udahlah, berhenti tertawa. Jujur aja pasti alasanmu bangun pagi karena ingin cepet-cepet pergi ke sekolah untuk melihat Eko kan? Ngaku aja lah. Udah kebaca tahu,”
“Eh apaan sih? Aku tuh emang bangun pagi karena hari ini kan senin, kita mau upacara,” jawabku ngeles.
“Halah ngaku aja lah,” aku pun meninggalkan Angel yang masih saja terus mengoceh meledekiku dengan senyum-senyum tak menentu.
Memang hanya Angel lah yang paling mengerti tentang perasaanku, perasaan cinta bertepuk sebelah tanganku. Entahlah, setiap kali aku mendengar nama Eko, detak hatiku langsung tak menentu. Meskipun aku tahu bahwa dia udah punya pacar dan mungkin karena itu juga dia tak memandangku. Tapi tetap saja hati ini tak bisa berpaling darinya. Dan aku gak akan berhenti untuk terus mengejarnya sampai tiba di saat dia mau melihat dan memandang kepadaku. Ah, di mataku dia teramat sangat keren.
“Hei! Bengong lo pagi-pagi udah kayak sapi ompong aja,” tiba-tiba Angel datang mengagetkan lamunanku.
“Yuk ke lapangan udah mau mulai tuh upacaranya,”
“Eh iya bentar,” jawabku yang masih agak kaget.
“Buruan, mau cepet ngelihat Eko gak?”
Dengan semangat aku dan Angel pun menuju ke lapangan upacara berbaris di paling depan dengan tujuan agar bisa melihat Eko di ujung sana. Celingukan aku melihat ke sana kemari tapi tetap saja aku tak melihat batang hidung Eko. Ke mana dia? “Jangan-jangan dia terlambat? Wuah bisa kena hukum dia,” batinku. Upacara pun telah selesai tapi sampai detik ini pun aku belum melihat Eko, akhirnya aku beraniin diri untuk bertanya kepada teman sekelasnya, ternyata dia sakit? Kaki-kakiku seakan melemas, tulang-tulangku pun ikut remuk mendengar kabar itu.
Sekarang yang bisa aku lakukan hanya berdoa semoga dia baik-baik saja dan lekas sembuh. Satu, dua, tiga, empat hari pun berlalu dia belum juga terlihat. Pada hari kelima yaitu hari sabtu aku melihatnya kembali. Aku sangat bersyukur dan bernapas lega. Bulan demi bulan pun terus berlalu, hingga sekarang tiba waktunya kami UN. Telah banyak hal yang berubah tapi tidak dengan hatiku sejak awal kami duduk di kelas XII semester awal sampai detik ini perasaanku belum berubah dan begitu juga dengan sikap dia kepadaku. Ya aku tetaplah si aku yang tak terlihat. Setelah selesai UN kami diliburkan jadi sudah pasti aku harus pulang ke rumah. Males sih di rumah, karena gak ada temen buat ngobrol dan yang pasti gak bisa ngelihat Eko lagi? Bosan dengan acara tv yang itu-itu aja, akhirnya aku memutuskan untuk tiduran di kamar sembari memainkan handphone-ku.
“What? Ini beneran Eko yang invite aku? Hah? Serius?” buru-buru aku accept dan ternyata benar itu adalah Eko setelah aku melihat display picture untuk memastikannya. Aku tahan-tahan diri untuk mengirim message ke dia dan ternyata dia duluan yang ngeping aku, ping!!! Setengah mati aku bahagianya malam itu. Buru-buru aku balas.
“Iya, kenapa?” setelah sekitar lima menit. “Kita kapan perpisahan sekolah?” ternyata dia ngehubungin aku cuma buat nanyain itu doang, buktinya setelah aku balas aku tidak tahu bbm-ku pun hanya di-read. Sedih sih tapi ngerasa seneng juga, gak nyangka aja dia bbm aku duluan, kan seharusnya dia bisa tanya ke temen-temennya atau ke pacarnya. Atau jangan-jangan dia udah putus? Sejak saat itu kami sering bbm-an hingga larut malam.
Hari kelulusan pun tiba, “Aku deg-degan nih, gimana kalau kita gak lulus?”
“Apaan sih? Jangan ngomong gitu, kita pasti lulus semua kok,” ujarku sok optimis padahal di dalam hati juga sangat deg-deg-an. “Mending kita buruan ke sekolah deh, biar cepet dapet kabar-kabar gitu,” akhirnya kami pun segera menuju ke sekolah. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Eko yang sepertinya mau jemput temennya. Dia pun tersenyum manis kepadaku. Ini adalah pertama kalinya dia tersenyum kepadaku? Kami semua dikumpulkan di tengah lapangan untuk mendengarkan sambutan dari kepala sekolah sebelum akhirnya masing-masing dari kami diberikan sebuah amplop yang berisi Lulus/Tidak Lulus-nya kami.
“Yeeey, aku lulus. Aku lulus!”
“Iya alhamdulillah ya Allah,”
Aku benar-benar bersyukur. Aksi coret menyoret pun tak dapat dihindari. Kami mulai memenuhi seragam putih abu-abu dengan coret-coretan tanda tangan. Tiba-tiba…
“Hei, minta tanda tangan kamu dong,” suara seorang pria mengejutkanku. Hah? Eko? Akhirnya Eko ngomong langsung denganku. Ini adalah pertama kalinya aku dengar dia ngomong langsung denganku.
“Eh kok malah bengong sih? Gak mau ngasih nih?”
Dengan gugup aku pun buru-buru menjawab. “Ha, oh eh iya, di mana?”
“Di sini aja,” sembari menjulurkan tangan kanannya. Aku mencari ruang kosong untuk menuliskan namaku yang memang tidak panjang dan membubuhi tanda tanganku di lengan bajunya.
“Kamu gak mau tanda tangan dari aku?” dengan malu aku menyodorkan tangan kiriku yang memang masih sedikit coretannya. Lalu dia pun menandatanginya. Terima kasih ya Allah aku sangat bahagia hari itu. 
Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Uups Sekian dulu,  Kita Lanjut Ceritanya lain waktu yah :D 

0 Response to "Cinta Tak Berbalas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel