Budaya Yang Terhina
Saat itu sang surya masih sanggup memancarkan sinarnya dari ufuk timur, Sekar adalah remaja yang berasal dari Surabaya. Sekar adalah remaja yang cerdas, baik, rajin, telaten, cantik, dan juga dia adalah seorang wakil ketua OSIS di SMA Bumi Pertiwi Surabaya. Wajar, kalau banyak yang mengenalnya termasuk guru-guru, siswa-siswa dan sampai-sampai di luar sekolah juga banyak yang mengenal gadis yang berwajah cantik ini. Banyak, laki-laki di sekolah itu yang tertarik padanya. Mereka bilang, Sekar itu paket komplit seorang gadis. Tapi, dengan segala pujian itu, Sekar belum mau berpacaran karena dia ingin fokus dalam belajar karena dia ingin sekali menjadi sutradara film di masa depan nanti.
Seperti biasa, Sekar selalu menunggu di depan rumahnya karena, setiap pagi dia selalu diantar. Tapi, bukan diantar oleh ayahnya ataupun bundanya. Dia selalu diantar oleh sahabat dari masa kecilnya yaitu, Alan. Alan juga teman sebangku Sekar di kelas. Alan adalah laki-laki yang baik, rajin, pintar, ganteng, dan juga bijaksana. Orangtua Sekar sangat percaya dengan Alan karena, orangtua Sekar sangat dekat dengan orangtua Alan dan mereka sudah akrab dari dulu.
“Assalammualaikum, Sekar,” sapa Alan dari depan pagar.
“Waalaikumsalam, Alan. Kenapa hari ini datangnya agak telat?” tanya sekar heran. Karena, biasanya Alan selalu datang pukul 6.15 pagi tapi dia hari ini datang pukul 6.30.
“Iya, tadi aku bangun agak kesiangan,” jawab Alan dengan malu.
“Ya sudahlah, ayo kita pergi!” kata Sekar sambil menaiki tunggangan sepeda Alan. Setibanya mereka di sekolah, mereka langsung bergegas pergi ke kelas. Saat sudah sampai di kelas, mereka disapa oleh beberapa teman mereka dan mereka terlihat heran terhadap mereka berdua.
“Waalaikumsalam, Alan. Kenapa hari ini datangnya agak telat?” tanya sekar heran. Karena, biasanya Alan selalu datang pukul 6.15 pagi tapi dia hari ini datang pukul 6.30.
“Iya, tadi aku bangun agak kesiangan,” jawab Alan dengan malu.
“Ya sudahlah, ayo kita pergi!” kata Sekar sambil menaiki tunggangan sepeda Alan. Setibanya mereka di sekolah, mereka langsung bergegas pergi ke kelas. Saat sudah sampai di kelas, mereka disapa oleh beberapa teman mereka dan mereka terlihat heran terhadap mereka berdua.
“Hai Sekar, jarang-jarang kamu datang agak terlambat. Ada apa?” tanya Rosa. Rosa adalah salah satu teman dekatnya Alan dan Sekar di kelas. Dia selalu mendukung apa yang dilakukan Alan dan Sekar tapi dia orang yang sedikit emosian
“Si Alan, Jemput aku agak terlambat. Katanya, dia bangun kesiangan,” jawab Sekar sambil menaruh tasnya.
“Bukannya, kalian pacaran dulu ya sebelum pergi,” goda salah satu temanku. Mereka sudah biasa mendengar godaan itu karena banyak yang mengira kalau, mereka berdua berpacaran. “Ciee, ciee,” lontar teman-teman mereka.
“Sudahlah, lebih baik kita siap siap tadarusan saja ya,” sahut Alan.
Memang, setiap pagi sekolah mereka selalu mengadakan tadarusan bersama sebelum pelajaran pertama dimulai kecuali pada saat upacara dan senam.
“Si Alan, Jemput aku agak terlambat. Katanya, dia bangun kesiangan,” jawab Sekar sambil menaruh tasnya.
“Bukannya, kalian pacaran dulu ya sebelum pergi,” goda salah satu temanku. Mereka sudah biasa mendengar godaan itu karena banyak yang mengira kalau, mereka berdua berpacaran. “Ciee, ciee,” lontar teman-teman mereka.
“Sudahlah, lebih baik kita siap siap tadarusan saja ya,” sahut Alan.
Memang, setiap pagi sekolah mereka selalu mengadakan tadarusan bersama sebelum pelajaran pertama dimulai kecuali pada saat upacara dan senam.
Hari ini adalah pelajaran Ibu Ertati. Dia adalah salah satu guru IPS di sekolah ini. Dia sangat baik dan selalu menasihati kami agar rajin salat dan mengaji. Hari ini, Ibu Ertati membahas soal pengaruh budaya luar di kehidupan kita. Sejujurnya, penjelasan Ibu Ertati sangat benar karena banyak remaja-remaja yang sudah terpengaruh dengan budaya luar yang tidak baik dan teman-temanku juga korbannya. Banyak teman-teman Sekar yang sudah terpengaruh oleh budaya luar dan mereka lupa dengan budaya-budaya yang ada di Indonesia ini dan Sekar juga sebenarnya terbawa arus budaya luar ini tapi Sekar hanya mengambil hal-hal yang positif dan selalu menerapkan budaya-budaya yang sudah ada dari dulu.
Pelajaran Ibu Ertati berakhir dan dilanjutkan jam istirahat. Teman-temanku berlarian ke kantin sekolah untuk membeli makanan. Sedangkan, Sekar, Alan dan Rosa sedang memakan makanan yang mereka bawa dari rumah. Mereka lebih suka membawa makanan dari rumah karena itu lebih sehat. Ada juga di kelas Sekar yang sedang berpacaran. Salah satunya, Alina. Alina adalah sebenarnya anak yang cukup pintar tapi karena, pergaulan bebas dan pengaruh budaya luar, dia berubah menjadi anak yang keras kepala, tidak mau diatur dan dia menjadi malas belajar. Dia dan teman-temannya juga terkadang mengejek Sekar dengan sebutan, “Anak Sok Alim” tapi, Sekar tidak pernah marah dengan ejekan itu.
“Alina, kenapa kamu tidak mengerjakan tugas kemarin?” tanya Alan.
“Memangnya masalah buat kamu? Itu kan juga tugas aku bukan tugas kamu!” tukas Alina.
“Hei Alina!! Kenapa kamu marah-marah? Alan hanya bertanya sama kamu,” tukas Rosa balik sambil menghampiri Alina.
“Kenapa kamu marah Rosa? Kan benar apa yang aku bilang. Lagi pula, kalian tidak usah mengurusi aku,” tegas Alina. Tiba tiba, teman teman Alina datang yaitu, Annisa, Tiara, Puspa, Caca, dan Ratu. Mereka ternyata mendengar perdebatan Alina dan Rosa.
“Benar yang dikatakan Alina. Sudahlah pergi sana!!” sahut Caca.
“Kenapa kamu ikut campur Caca. Kamu hanya membela dia karena dia sering menteraktir kamu kan!?” Tukas Rosa.
“Bilang saja kalau kamu juga ingin seperti kami,” sahut Tiara.
“Memangnya masalah buat kamu? Itu kan juga tugas aku bukan tugas kamu!” tukas Alina.
“Hei Alina!! Kenapa kamu marah-marah? Alan hanya bertanya sama kamu,” tukas Rosa balik sambil menghampiri Alina.
“Kenapa kamu marah Rosa? Kan benar apa yang aku bilang. Lagi pula, kalian tidak usah mengurusi aku,” tegas Alina. Tiba tiba, teman teman Alina datang yaitu, Annisa, Tiara, Puspa, Caca, dan Ratu. Mereka ternyata mendengar perdebatan Alina dan Rosa.
“Benar yang dikatakan Alina. Sudahlah pergi sana!!” sahut Caca.
“Kenapa kamu ikut campur Caca. Kamu hanya membela dia karena dia sering menteraktir kamu kan!?” Tukas Rosa.
“Bilang saja kalau kamu juga ingin seperti kami,” sahut Tiara.
“Siapa juga yang cemburu. Hmm,” pikir Rosa.
“Sudahlah Rosa, tidak usah dilanjutkan lagi perdebatan ini. Lebih baik, kita siap-siap untuk pelajaran selanjutnya,” saran Sekar.
“Nah, si anak sok alim ini baru bicara,” sahut Puspa.
“Iya, dari tadi dia diam saja,” lanjut Annisa.
“Kalian ini, sudahlah. Aku tidak suka berdebat seperti ini,” jawab Sekar.
“Kata-katanya saja yang halus tapi, dalam hatinya pasti marah besar sekali,” ejek Ratu.
“Sudahlah Rosa, tidak usah dilanjutkan lagi perdebatan ini. Lebih baik, kita siap-siap untuk pelajaran selanjutnya,” saran Sekar.
“Nah, si anak sok alim ini baru bicara,” sahut Puspa.
“Iya, dari tadi dia diam saja,” lanjut Annisa.
“Kalian ini, sudahlah. Aku tidak suka berdebat seperti ini,” jawab Sekar.
“Kata-katanya saja yang halus tapi, dalam hatinya pasti marah besar sekali,” ejek Ratu.
Tiba-tiba, bel berbunyi dan saat jam pelajaran baru dimulai. Selama pelajaran, Sekar terkadang memperhatikan Alina dan tema-temannya yang sedang bermain handphone dan juga mengganggu teman-teman di sebelahnya yang sedang fokus belajar. Saat Pergantian pelajaran..
“Alan, coba kamu lihat Alina di sana. Dia tidak memperhatikan pelajaran sama sekali,” sahut Sekar.
“Iya Sekar, aku terkadang heran, mengapa seorang Alina yang dulu pintar sekarang menjadi seperti ini,” tanya Alan.
“Itulah Lan, pengaruh budaya luar dan pergaulan bebas yang dapat mengubah Alina,” jawab Sekar.
“Iya, semoga Alina dan teman-temannya sadar atas apa yang mereka lakukan sekarang,” kata Alan.
“Amin. Ya sudah, lebih baik, kita siap-siap untuk pelajaran terakhir,” saran Sekar.
“Baiklah,” balas Alan.
“Iya Sekar, aku terkadang heran, mengapa seorang Alina yang dulu pintar sekarang menjadi seperti ini,” tanya Alan.
“Itulah Lan, pengaruh budaya luar dan pergaulan bebas yang dapat mengubah Alina,” jawab Sekar.
“Iya, semoga Alina dan teman-temannya sadar atas apa yang mereka lakukan sekarang,” kata Alan.
“Amin. Ya sudah, lebih baik, kita siap-siap untuk pelajaran terakhir,” saran Sekar.
“Baiklah,” balas Alan.
Setelah semua pelajaran selesai, kami diundang ke ulang tahun Linda minggu depan ke-17 tahun. Linda adalah teman Sekar dan Alan dari SD dan dia satu kelas dengan kami. Dia mengadakan ulang tahun di salah satu hotel ternama di kota. Linda adalah anak salah satu pengusaha yang terkenal di Indonesia maka itulah dia dapat merayakan ulang tahunnya di hotel yang ternama. Jagalah Budaya Indonesia.
TAMAT
Cerpen Karangan: Aurora Putri Latifah
Facebook: Aurora Putri Latifah
Facebook: Aurora Putri Latifah

0 Response to "Budaya Yang Terhina"
Post a Comment