Pilih Cantikmu !

https://cerpenja.blogspot.co.id/

"Pilih Cantikmu"
Pelan. Selangkah demi selangkah kakiku berjalan. Ku kontrol sekali agar kedatanganku tidak diketahuinya. Tangan kiriku membawa kue kecil. Sedangkan tangan kananku siaga menghalau angin agar tidak membunuh api lilin di tengahnya.
“Happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you,” Suara melengkingku mengejutkan Karina yang sedang duduk di kursinya sendirian. Dia adalah sahabatku yang merayakan ulang tahunnya ketujuh belas.
“Oh, thank’s banget ya. Surprise banget aku,” jawabnya dengan senyuman.
“Oke, sebelum acara tiup lilin make a wish dulu ya,” Karina menutup matanya untuk berdoa. Aku pun menyusulnya dalam kejapan mataku. Ku panjatkan doa agar Karina menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala hal.
“Happy birthday Karina. Push..,” Karina meniup api kecil di lilin itu.
“Maaf ya, cuma ini yang bisa aku kasih,” kataku merendah. Aku memang tidak bisa memberikan kado yang lebih bagus dan mahal. Karena aku berasal dari keluarga yang pas-pasan.
“Iya, yang terpenting buatku adalah ucapan dan doa dari kamu. Aku nggak minta apa-apa,” jawabnya bijaksana. Inilah yang membuatku sangat kagum padanya. Dia cantik, berkulit putih, tubuh proporsional, dari keluarga yang serba kecukupan. Pastinya semua orang mendambakannya. Tapi dengan semua kelebihan yang dimilikinya itu sama sekali tidak membuatnya sombong. Dia tetap rendah hati dan mau menjadikanku yang serba kekurangan ini sahabatnya.
“Eh, kamu juga harus cobain kuenya dong,” Karina mencuil kue itu dan hendak menyuapkannya padaku. Tapi tidak disangka, aku sudah mangap-mangap eh dia malah meleletkan kuenya ke pipiku. Jadinya belepotan deh.
Tapi aku tidak mau kalah. Dengan cepat aku membalas aksi jahilnya tadi. Jelas aja wajah kita berdua jadi kayak badut semua. Tapi kita fun kok.
“Udah, udah, sayang kali kuenya. Aku ambil tisu dulu,” Karina mengakhiri peperangan ini. Ia merogoh laci mejanya yang biasa ia masukkan tisu di dalamnya. Tapi kayaknya dia menemukan sesuatu yang lain.
“Kenapa?” tanyaku heran. Karina lalu mengeluarkan tangannya yang membawa kotak kado warna ungu yang cantik.
“Dari siapa?” tanyaku lagi penasaran. Walaupun agak sinis juga. Itu pasti dari cowok penggemarnya. Karina memang jadi idola semua murid cowok di sini.
Walau dengan perasaan sebal dan iri, aku mau tahu juga apa isinya. Sebuah kotak musik lucu yang membuatku jatuh cinta pada pertama kali melihatnya. Ada surat kecil bersamanya, itu pasti ucapan selamat ulang tahun dan kata-kata manis plus romantis. Seandainya aku yang mendapat kado itu pasti langsung jingkrak-jingkrak bahagia. Bagaimana tidak, ada seseorang yang memperhatikanku dan memberiku hadiah. Itu artinya aku sangat spesial untuknya kan. Tapi di luar bayanganku, Karina malah meremas surat itu lalu memberesi semua.
“Loh, mau dibawa ke mana?”
“Aku udah punya banyak ginian. Aku mau buang aja, tapi kalau kamu mau ini buat kamu aja,” Jujur aja mendengar kata-kata Karina itu aku kaget, marah juga. Ya iya lah marah, seenaknya aja dia memperlakukan orang yang sudah memberinya hadiah. Padahal aku di sini sangat ingin merasakan itu. Aku mengangguk pelan, Karina meletakkan kado itu di meja lalu membuang bungkusnya.
Sepuluh menit berlalu aku duduk di sini. Di deretan kursi yang tersedia di halte bus depan sekolah. Seperti inilah jadwalku sepulang sekolah. Menunggu bus tanpa kepastian sampai kapan tiba di rumah. Brmm. Tidak disangka aku mendapat sapaan dari Gara, cowok yang pernah jadi sekelompok denganku waktu masih aktif di PMR dulu. Aku menjawab sapaannya dengan tersenyum. Walaupun dia sudah berlalu agak jauh aku masih saja belum menghapusnya. Tiba-tiba dia melihat lagi ke arahku. Duh, aku jadi ge-er nih. Jujur aja aku menaruh rasa kagum padanya. Mungkin lebih tepatnya aku suka padanya. Lamunanku terbuyarkan oleh kedatangan Gara dengan motornya. Kontan aja aku jadi salah tingkah. Hampir tidak percaya juga, serius nih Gara nyamperin aku?
“Wid, busnya lama ya?” Gara membuka percakapan.
“Emh, iya,” jawabku singkat. Aku masih belum percaya Gara menghampiriku dan mengajak ngobrol.
“Tiap hari nunggu bus gini ya,”
“Ya begitulah,”
“Tapi kamu hebat loh,” Hebat? Maksudnya apa? Aku jadi kepedean nih dia muji aku gitu. “Hebatnya apa?”
“Hebat lah, tiap hari ke sekolah naiknya roda empat, pake sopir pribadi lagi. Anak-anak sini kan mentoknya cuma roda dua, itu pun disetir sendiri,” Dia tertawa kecil.
“Apaan sih,” aku ketawa juga. Ternyata dia mengerjaiku.
Aku mulai nyaman ngobrol dengannya. Karena dia selalu punya ide untuk membuatku tertawa. Aku tambah ge-er nih, jangan-jangan dia lagi pedekate denganku.
“Oya, Karina udah pulang?” kege-eranku langsung runtuh mendengarnya menyebut nama Karina. Aku langsung pasang curiga, jangan-jangan tujuan Gara nyamperin aku hanya untuk cari info tentang Karina. Obrolanku dengannya tadi nggak ada pentingnya, hanya basa-basi aja. Kataku dalam hati.
Dengan malas dan sebal aku menjawab, “Karina?”
“Iya, kamu kan sahabatnya. Pasti tahu dong,”
“Karina udah pulang dari tadi,” jawabku agak ketus.
“Emh, tahu nggak tadi Karina dapat kado misterius?”
“Oh, jadi itu dari kamu?”
“Iya, gimana tadi? Diterima kan? Aku tuh bingung banget mau kasih hadiah apa. Dia juga belum kenal baik denganku, jadi aku nggak kasih nama deh,” Mendengar penjelasan Gara yang sangat antusias aku jadi semakin males menanggapi. Huft, pengen banget aku bungkam mulutnya. Kata-katanya itu buat aku panas aja. Dia tuh nggak ngerasa bersalah banget ya, udah bikin aku ge-er tapi ternyata dia nyamperin aku cuma buat cari info tentang Karina. Sakit tahu.
“Kamu mau tahu gimana reaksi Karina tadi? kalau nggak aku cegah udah di tempat sampah tuh hadiahmu,” Kemarahanku tersampaikan sudah.
“Masa sih segitunya?”
“Tahu deh, awas aku mau naik bus,” Aku menyingkir darinya dan mendekati bus yang untungnya segera datang.
Bel istirahat berbunyi, aku dan Karina bergegas menuju kantin sekolah. Di perjalanan ke sana Karina mencurahkan perasaannya tentang ulang tahunnya kemarin.
“Wid, tahu nggak sih, kemarin tuh aku baru aja dapet black seventeen bukan sweet seventeen,”
“Kok bisa?” tanyaku santai. Jujur sih, aku pengen cepet-cepet menggruduk nasi pecelnya bu Inah. Aku belum sarapan tadi. “Iya lah, aku dapet kado banyak tapi nggak ada nama pengirimnya. Terus dapet sms ucapan selamat ulang tahun nggak ada namanya juga. Nggak gentle banget kan mereka,”
“Di hari ulang tahunmu banyak orang yang ngucapin selamat dan doain, kamu malah sebel? Harusnya seneng dong,” timpalku sedikit memprotes.
“Seneng? Kamu nggak ngerasain sih. Parahnya lagi ada cowok nggak ku kenal telepon aku tengah malam. Aku lagi tidur nyenyak kali, gangguin aja deh,”
“Karina apa pun yang kamu dapet di ulang tahunmu ini kamu harus bersyukur. Karena ada orang yang iri nggak bisa dapet apa yang kamu miliki,” Aku menasihatinya dengan bijaksana. Iya lah, kan lagi ngomongin aku sendiri.
“Iri? Iri dengan gangguan hidupku ini? Siapa? Dia pasti orang yang bodoh,”
“Aku. Kamu tahu di ulang tahunku yang ketujuhbelas lalu kamu satu-satunya orang selain keluargaku yang ngasih aku ucapan selamat. Bahkan cuma kamu aja yang ngasih aku hadiah, keluargaku aja nggak. Aku nggak tahu kenapa aku apes banget, nggak ada cowok yang peduli bahkan suka denganku. Sedangkan tiap hari aku melihat sahabat terdekatku selalu digandrungi banyak cowok. Nyesek tahu nggak?” aku menumpahkan perasaanku yang terpendam tentang Karina.
“Wid, lucu banget ya. Sebenarnya aku tuh iri sama kamu. Hidupmu tenang, punya keluarga utuh dan lengkap. Setiap hari mereka selalu ada buat kamu. Kamu mau jalan ke mana aja nggak ada gangguan. Nggak ada yang suit-suit kamu, godain kamu, bahkan main tangan sama kamu. Aku tuh pengen ngrasain hidup yang tenang. Aku nggak pengen terlahir cantik kayak gini kalau hanya membuatku nggak nyaman dan tenang. Buat apa sih kita punya wajah cantik tapi nggak ada yang menghargai kecantikan kita? Mereka semua yang ngedeketin aku hanya untuk menikmati kecantikanku tanpa rasa sayang yang tulus. Kita harusnya dihargai tanpa memandang kecantikan kita,” Perkataan Karina sangat menyentuh hatiku.
Karina, kamu benar. Kecantikan wajah bukanlah tolak ukur penghargaan orang lain. Tapi hati kitalah yang utama. Kenapa aku sangat ingin digodain cowok, dideketin cowok. Bukankah itu menunjukkan bahwa cowok itu tidak menghargai diriku. Dia hanya ingin menikmati kecantikanku. Tuhan, ampuni aku telah menuduhmu tidak berlaku adil. Aku bersyukur Engkau menganugerahkan wajah pas-pasan. Karena Engkau pasti ingin menjaga dan melindungiku. Engkau sangat menyayangiku, ampuni aku Tuhan.

0 Response to "Pilih Cantikmu !"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel