Tak Seperti Dulu
Namaku Erik. Dulu waktu masih kecil aku dan teman-temanku selalu bermain bersama. Kami bermain dengan alam tak sama dengan anak-anak sekarang yang sibuk dengan ‘gadget’ dan mudah terjerumus ke dalam nark*ba, pergaulan, bebas, dan hal-hal lain yang berbau kenakalan remaja sayangnya hal itu terjadi pada adikku Lintang.
“Lintang kau belum tidur?” Tanyaku sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 01.00 pagi di kamarnya.
“Eh Kakak kaget tahu kalau mau masuk ketuk pintunya dulu dong!” Katanya terkejut, sambil mencoba menyembunyikan sesuatu di balik selimutnya. Aku pun mendekatinya untuk memeriksa apa yang sedang disembunyikannya.
“Apa yang sedang kau sembunyikan boleh Kakak lihat?” Pintaku sembari celingak-celingkuk ke kasur Lintang.
“Tidak jangan!” Ucapnya dengan spontan dan berkeringat. Aku pun mengalah ku biarkan dia untuk bermain sebentar dan setelah itu tidur. Di pagi harinya Lintang berangkat ke sekolah dan aku pergi ke kampus lalu pulang seperti biasanya tapi hanya aku yang pulang Lintang tidak.
“Eh Kakak kaget tahu kalau mau masuk ketuk pintunya dulu dong!” Katanya terkejut, sambil mencoba menyembunyikan sesuatu di balik selimutnya. Aku pun mendekatinya untuk memeriksa apa yang sedang disembunyikannya.
“Apa yang sedang kau sembunyikan boleh Kakak lihat?” Pintaku sembari celingak-celingkuk ke kasur Lintang.
“Tidak jangan!” Ucapnya dengan spontan dan berkeringat. Aku pun mengalah ku biarkan dia untuk bermain sebentar dan setelah itu tidur. Di pagi harinya Lintang berangkat ke sekolah dan aku pergi ke kampus lalu pulang seperti biasanya tapi hanya aku yang pulang Lintang tidak.
“Ini sudah malam kenapa Lintang belum pulang juga?” kataku dengan cemas sembari mondar-mandir di depan pintu rumah. Ibu dan aku baru saja akan mencarinya tapi Lintang sudah mengetuk pintu rumah terlebih dahulu ibuku pun membukanya.
“Lintang?!” Ucapku dan ibuku dengan perasaan senang bercampur marah.
“Ibu, Kakak.” Ucap Lintang dengan lemas.
“Kenapa kau tidak langsung pulang setelah pulang sekolah?!” Tanyaku dengan nada tinggi kepada Lintang.
“Lintang?!” Ucapku dan ibuku dengan perasaan senang bercampur marah.
“Ibu, Kakak.” Ucap Lintang dengan lemas.
“Kenapa kau tidak langsung pulang setelah pulang sekolah?!” Tanyaku dengan nada tinggi kepada Lintang.
Tentu saja aku sangat marah dia adalah adik perempuanku perempuan aku tidak mau gagal mendidiknya sebagai seorang kakak laki-laki. “Ah Kakak aku lelah sekali aku mau tidur.” kata Lintang sambil berjalan terhuyung-huyung. Aku terus memarahinya dan melontarkan banyak pertanyaan tapi dia hanya menjawab, “Hmm..” dengan malas sampai benar benar tertidur. Saat ku sadari dia telah terlelap aku pun mengelus rambutnya dan mengecup keningnya. Aku sangat menyayangi adikku. Di pagi harinya ku lihat Lintang hanya bermain dengan ‘gadget’-nya sambil tiduran di kasur miliknya.
Aku pun menghampirinya dan berkata, “Lintang maafkan Kakak ya kemarin Kakak marah-marah kepadamu.” Dengan rasa bersalah. “Ya tidak apa-apa,” jawab Lintang dengan cepat.
“Lintang jangan hanya bermalas-malasan sambil main ‘hp’ cobalah untuk bergaul dengan teman-teman yang sebaya denganmu. Zaman memang tak seperti dulu ya, dulu aku bermain dengan alam tapi lihat anak zaman sekarang sibuk dengan gadget-nya entah apa yang mereka lihat pada benda itu.” kataku sembari memegangi kening tanda ‘pusing’.
“Ya ampun Kak anak-anak di sini tidak gaul dan Kakak gadget ini adalah ‘hidupku’ ucapnya dengan malas. Sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun Lintang melihat ke arah jam dan langsung melompat dari tempat tidur dan berteriak, “Kyaa film favoritku sudah mulai.”
“Lintang jangan hanya bermalas-malasan sambil main ‘hp’ cobalah untuk bergaul dengan teman-teman yang sebaya denganmu. Zaman memang tak seperti dulu ya, dulu aku bermain dengan alam tapi lihat anak zaman sekarang sibuk dengan gadget-nya entah apa yang mereka lihat pada benda itu.” kataku sembari memegangi kening tanda ‘pusing’.
“Ya ampun Kak anak-anak di sini tidak gaul dan Kakak gadget ini adalah ‘hidupku’ ucapnya dengan malas. Sebelum aku sempat mengucapkan sepatah kata pun Lintang melihat ke arah jam dan langsung melompat dari tempat tidur dan berteriak, “Kyaa film favoritku sudah mulai.”
Ia pun langsung berlari ke ruang tv dan menyalakan tv-nya lalu duduk di atas kursi. Aku mengikutinya. “Lintang film apa yang kau tonton ini tak cocok dengan usiamu masa kau menonton orang yang berpeluk-pelukan seperti ini, kebut-kebutan motor, adu tinju lagi.” Kataku menasihati Lintang. “Ah Kakak ini tuh film-nya anak gaul lagi populer sekarang, oh ya nanti malam aku ke luar lagi ya Kak,” katanya sambil menatap layar tv tanpa melihatku sedikit pun.
Aku pun geleng-geleng kepala, “Memang tak seperti dulu, zaman telah berubah.” ucapku dalam hati.
Aku pun geleng-geleng kepala, “Memang tak seperti dulu, zaman telah berubah.” ucapku dalam hati.
Pada malam itu Lintang mencoba untuk ke luar lagi tapi aku melarangnya alhasil usahaku sia-sia Lintang kabur dari jendela rumahnya, peristiwa ini terjadi berturut-turut sampai seminggu. Pada hari kelima Lintang berubah drastis matanya merah, nafsu makannya berubah, tidurnya sering terganggu dan lain-lain. Sampai pada hari ketujuh Lintang tak lagi pulang dan ada berita di tv bahwa para remaja tertangkap pesta nark*ba di sebuah rumah kecil salah satu dari mereka adalah Adikku?! aku tidak menyangka aku telah gagal mendidiknya sebagai seorang kakak laki-laki.
Aku menyesal sekali karena dua tahun ini aku sangat sibuk sehingga kedekatan kami terganggu seharusnya aku menyadari bahwa zaman sudah berubah dan tak seperti dulu lagi. Tangisan minta tolong Lintang tiada guna lagi, aku tak berdaya untuk memutar waktu untuknya. Tak akan ku biarkan anak cucuku akan jadi korban selanjutnya. Ingatlah menyesal di akhir tiada guna jangan sia-siakan waktumu untuk hal yang merusak masa depanmu anak muda. Dan berilah perhatian kepada para generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam jurang tanpa dasar karena zaman tak lagi seperti dulu.
Cerpen Karangan: Kezia Famia Amany

0 Response to "Tak Seperti Dulu"
Post a Comment