Messenger Of Love

https://cerpenja.blogspot.co.id/

Messengger Of Love
“Jangan Shuusei!” Kaori merebut ponselnya. Wajahnya memerah. “hey.. aku cuma lihat.” Shuusei tersenyum picik diikuti teman temannya yang tertawa puas. Kaori mendengus kesal ia sadar tak bisa membalas.Kaori memilih berbalik dan lekas pergi. “Uh.. Kaori marah” salah satu teman Shuusei mengejek “oy Kaori!” “Teman chat mu sepertinya suka padamu!” Teriak shuusei. kaori tersentak malu, sadar shuusei membaca chat pribadinya. Ia pun berlari ke dalam kelas. “Cewek bodoh, suka pada pria yang wajahnya saja belum ia lihat.” “kasihan..” Shuusei terdiam.
Kaori duduk di depan meja belajarnya dengan ponsel di tangan. Menatap layar ponselnya tertera pesan baru dari teman sepermainannya yang diam diam ia suka. Awalnya ia merasa aneh tiba tiba saja ada yang mengiriminya pesan dan mengajaknya berkenalan. Namun hari ke hari mereka semakin akrab dan sepemahaman dalam hal apapun. Kaori mulai merasa cocok… aneh padahal ia tak pernah melihat wajahnya mereka bahkan sepakat tak memberi tahu nama satu sama lain. namun rasanya nyaman bisa berbagi pikiran dengan orang itu. Namun semua hancur. Shuusei yang seenaknya mengacau! Sembarangan melihat ponsel kaori. Membeberkan semuanya. “Gara gara dia…! Aku diejek terus.” Kaori meringis
TING… TONG… ponselnya bunyi lagi. Orang yang Kaori sukai mengirim pesan lagi. Kaori terdiam sejenak. Ia senang tapi cemas. Ia pun membuka pesannya.
“Sedang ada masalah kah? Tumben tak membalas :)” kaori tersenyum membaca pesan itu.
“tidak… seperti biasa.. pria menyebalkan di sekolah ku menganggu tapi tak apa.” Balas kaori
“Sangat menyebalkan ya?”
“dia seenaknya dan mengacau.. sebenarnya bukan salah dia juga sih melihat ponsel ku, soalnya aku tak hati hati.”
“maaf ya.. kau kesulitan.”
“Ahaha.. tidak kok..” Kaori tersenyum. Ia kemudian terdiam.. tangannya menggeggam erat ponsel.
“Kau gadis yang baik :))”
Kaori tersenyum lebar membaca pesan itu.
“Anu..”
“Iya?.. kenapa?”
“Maaf sebelumnya.. kita sudah buat perjanjian tapi..”
“Kenapa?”
Kaori tak melanjutkan. Ia berfikir dengan gelisah. “kenapa denganku! Masa iya mau tanya namanya cuma karena masalah shuusei!” “Lagipula kita sudah janji!” Kaori mengangguk yakin. Ia mengetik lagi.
“Tidak jadi.. hehe”
“Kenapa?.. ada sesuatu ya?”
“Tidak kok,”
“Kau ingin penasaran dengan wajahku ya?.. kau takut jelek ya?”
“Ha! Tidak kok.”
“Kaori aku suka padamu… tapi aku pria yang jelek.”
“Tidak.. tidak begitu.”
Tak ada jawaban dari pesannya. Kaori bingung. “kok tidak dibalas ya?! Aduh.” “Tuh kan!!! Ah kacau! Bagaimana ini.” Kaori menaruh ponselnya dengan cemas. Ia menunggu hingga akhirnya tertidur.
Esok harinya.. belum ada jawaban juga. Kaori pun berangkat ke sekolah dengan hati gelisah. Ia sudah bulak balik lihat ponselnya. Tak ada jawaban.
Dari jauh Kaori sudah melihat shuusei dan kawannya. Ia berjalan seraya menunduk. Ia secepat mungkin berjalan. namun Shuusei menarik bahunya dan menyeringai. “Hey Kaori…” panggilnya. Kaori menahan kesalnya. Kawan Shuusei menyerobot dengan cepat “Jangan marah dong … jika kau marah teman chat mu yang baik hati itu bisa menghajar shuusei dan kami nanti.” “Eh… tapi dia bisa melawan ku tidak ya!? Siapa tau dia seorang kakek kakek atau om om penjaga parkir.” Semua tertawa “kok bisa kau suka padanya?” “Ini jamannya edan Kaori.. orang bisa melakukan apa saja.. bahaya.” Tambah mereka. “Lepas!” Kaori menangkis tangan Shuusei dari bahunya. Ia mendongkak. Matanya berkaca kaca. “Jangan ikut campur! Kau tak mengenalku dan dia!” Kaori berlalu dengan kesal.
Hingga malam ponselnya masih sepi.
Kaori menangis ia mengirimi banyak pesan. Ia mengeluarkan isi hatinya.
“Aku diejek lagi…”
“Mereka bilang kau kakek kakek.. padahal kau pelajar”
“Aku sedang sedih.”
“Apa kau marah?..”
“Maaf aku tak maksud..”
Tak juga ada jawaban. Kaori semakin sedih dan merenung seorang diri.
Satu hari.. dua hari.. tiga hari.. dan terus tak ada sms lagi. Kaori tak dapat kabar. Ia putus asa. Pesan pesannya tak dibalas. “Ada apa?… kenapa tak mengirimi sms lagi?” Kaori mengirim pesan dengan berat hati.
“Jika sedang sibuk.. aku tunggu ya.”
“Kabarmu bagaimana? Masih sibuk? Semangattt!”
Tak ada balasan.
Kaori terdiam di kursi taman sekolah. Matahari hampir terbenam dan ia masih duduk seorang diri. Ia menangis tersrdu sedu. Dadanya sesak. Ia merasa tercampakan.
Tap.. tap.. kaori mendongkak melihat sepasang kaki di hadapannya. Kaori tersentak dan menghapus air matanya.
“….” Shuusei menatap datar. “Apa yang kau lihat!” “Mau tertawa melihatku menangis!?” Kaori menyentak air matanya mengalir lagi. “Kau benar!, tak ada guna, aku bodoh! Ini jaman edan! Orang jahat!” Kaori menangis kencang. “Tapi meski orang menertawakannya aku bahagia!” “Meski itu konyol aku merasakan cinta yang tak konyol!” “Kebahagiaan… sederhanaku…” Kaori tersedu sedu nafasnya sesak. bahunya naik turun.
“Kau tak tau ap–”
Shuusei memeluk tubuh kaori dengan lembut. Kaoru terbelalak. “…” Kaori mengedipkan matanya. Ia terdiam tak berkata kata. Air matanya tetap mengalir. Tapi ia merasa hangat.. nafasnya lega. Matanya sendu menatap matahari tenggelam.
“Kaori…” Shuusei yang masih memeluknya berbisik halus. Kaori terkekeh. Tak seperti Shuusei yang seenaknya dan kasar. Ini tak seperti Shuusei.
“Namaku Shuusei Kawahara, umurku 17 tahun,… aku pelajar SMA.” Shuusei melepas pelukannya. Dan menatap wajah Kaori yang kebingungan
“Ini wajahku…” “kau suka?”
“…..” Kaori terdiam. air matanya berhenti mengalir
Ia berdiri dengan cepat dan meraih ponselnya. Kaori terlihat serius dan menelfon pria chat nya.
Drtt… Drttt… ponsel Shuusei berdering. Shuusei mengangkatnya
“Hai Kaori?” Sapa Shuusei. Kaori menganga. “Kau tak percaya jika itu aku?” “Ta.. tapi!” “Kau tak senang ya? Padahal aku tampan begini, harusnya syukur kek yang mengirimimu pesan bukan kakek kakek” “aku tak punya pulsa makannya tak kubalas sms mu,” “lagipula aku suka melihatmu marah dan menangis wajahmu jadi merah, seperti bawang.”
Shuusei heran melihat Kaori yang terus diam dan tak merespon
“Oy! Kaori?..” “kau suka padaku kan ya?” “Katamu aku kebahagiannmu.. ah aku terharu ingin menangis.” Kaori tetap diam “oy oy! Kaori?”
“Jangan bercanda sialaannnnn!!!’ Kaori berteriak histeris seraya menarik kerah seragam Shuusei “kutarik semua kata ku!!!” “Aku tak suka padamu!” Wajah kaori memerah “yah.. tak bisa begitu dong, bayar uang pulsa ku karena balas pesan mu,” “Ahhhhhh!!!!” Kaori menyabet tasnya dan berjalan pulang. Shuusei tertawa puas.
“Oy!!! Tunggu kaori!!!” shuusei menyusulnya dengan tawa sumringah.
“Katanya suka padaku?”
“Aku tak pernah suka padamuuuuu!”
Cerpen Karangan: UI

0 Response to "Messenger Of Love"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel